PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN INDONESIA
1. Zaman Batu Tua
Alat-alat batu pada zaman batu
tua, baik bentuk atau pun permukaan peralatan masih kasar, misalnya kapak
genggam .Kapak genggam semacam itu kita kenal dari wilayah Eropa, Afrika, Asia
Tengah, sampai Punsjab(India), tapi kapak genggam semacam ini tidak kita
temukan di daerah Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian para ahli prehistori,
bangsa-bangsa Proto-Austronesia pembawa kebudayaan Neolithikum berupa kapak
batu besar atau pun kecil bersegi-segi berasal dari Cina Selatan, menyebar
kearah selatan, ke hilir sungai-sungai besar sampai kesemenanjung Malaka Lalu
menyebar ke Sumatera, Jawa. Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, sampaike Flores,
dan Sulawesi, danberlanjutke Filipina.
Kapak-kapak tersebut diasah sampai
mengkilap dan di ikat pada tangkai kayu dengan menggunakan rotan.Sebagai
tambahan seiring persebaran kapak batu tersebut tersebar pula Bahasa
Proto-Austronesia yang merupakan induk dari bahasa dari bangsa-bangsa di
sekitar Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik.Karena perkembangan nya muncul
bahasa melayu yang nantinya di negara Indonesia berkembang menjadi bahasa
Indonesia
2. Zaman Batu Muda
Ciri – ciri zaman batu muda :
a. Mulai menetap dan membuat rumah,
b. Membentuk kelompok masyarakat desa,
c. Bertani,
d Berternak untuk memenuhi kebutuhan hidup.
e. Manusia pada zaman batu muda telah mengenal dan
memiliki kepandaian untuk mencairkan/melebur logam dari biji besi dan
menuangkan kedalamcetakan dan mendinginkannya.
f. Oleh karena itu lah mereka mampu membuat senjata
untuk mempertahankan diri dan untuk berburu serta membuat alat-alat lain yang
mereka perlukan
g. Bangsa-bangsa Proto-austronesia yang masuk dari Semenanjung
Indo-China ke Indonesia itu membawa kebudayaan Dongson, dan menyebar di
Indonesia.
Materi dari kebudayaan Dongson berupa
senjata-senjata tajam dan kapak berbentuksepatu yang terbuat dari bahan perunggu
Hal yang patut di catat tentang
permulaan zaman logam ini adalah kenyataan yang jelas bahwa Indonesia sebelum
memasuki zaman Hindu telah mengenal kebudayaan yang tinggi derajatnya dan
penting bagi perkembangan kebudayaan Indonesia selanjutnya.
·
BUDAYA HINDU BUDHA ISLAM di INDONESIA
1. AKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDHA-ISLAM di
INDONESIA
Fakta tentang
Proses Interaksi Masyarakat
Indonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan bagi para
pedagang India untuk sungguh tinggal di kota pelabuhan-pelabuhan di Indonesia
guna menunggu musim yang baik. Mereka pun melakukan interaksi dengan penduduk
setempat di luar hubungan dagang. Masuknya pengaruh budaya dan agama
Hindu-Budha di Indonesia dapat dibedakan atas 3 periode sebagai berikut.
1. Periode Awal (Abad V-XI M)
Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol
sedang unsur/ ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak
ditemukannya patung-patung dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di
kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara dan Mataram Kuno.
2. Periode Tengah (Abad XI-XVI M)
Pada periode ini unsur Hindu-Budha dan Indonesia berimbang. Hal tersebut
disebabkan karena unsur Hindu-Budha melemah sedangkan unsur Indonesia kembali
menonjol sehingga keberadaan ini menyebabkan munculnya sinkretisme (perpaduan
dua atau lebih aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman kerajaaan Jawa
Timur seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit. Di Jawa Timur lahir aliran
Tantrayana yaitu suatu aliran religi yang merupakan sinkretisme antara
kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha.
Raja bukan sekedar pemimpin tetapi merupakan keturunan para dewa. Candi bukan
hanya rumah dewa tetapi juga makam leluhur.
3. Periode Akhir (Abad
XVI-sekarang)
Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode
sebelumnya, sedangkan unsur Hindu-Budha semakin surut karena perkembangan
politik ekonomi di India. Di Bali kita dapat melihat bahwa Candi yang menjadi
pura tidak hanya untuk memuja dewa. Roh nenek moyang dalam bentuk Meru Sang
Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu sebagai manifestasi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Upacara Ngaben sebagai objek pariwisata dan sastra lebih banyak yang berasal
dari Bali bukan lagi dari India.
AKULTURASI
Masuknya
budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnya Akulturasi. Akulturasi
merupakan perpaduan 2 budaya dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat hidup
berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari
kedua kebudayaan tersebut. Kebudayaan Hindu-Budha yang masuk di Indonesia tidak
diterima begitu saja melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan
kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli.
Hal ini disebabkan karena:
1. Masyarakat Indonesia telah
memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan
asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.
2. Kecakapan istimewa yang
dimiliki bangsa Indonesia atau local genius merupakan kecakapan suatu bangsa
untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut
sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Pengaruh
kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di
Indonesia. Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang masih
terpelihara sampai sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses
pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Hasil
akulturasi tersebut tampak pada.
1. Bidang Sosial
Setelah masuknya agama Hindu terjadi perubahan dalam tatanan sosial masyarakat
Indonesia. Hal ini tampak dengan dikenalnya pembagian masyarakat atas kasta.
2. Ekonomi
Dalam ekonomi tidak begitu besar pengaruhnya pada masyarakat Indonesia. Hal ini
disebabkan karena masyarakat telah mengenal pelayaran dan perdagangan jauh
sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia.
3. Sistem Pemerintahan
Sebelum masuknya Hindu-Budha di Indonesia dikenal sistem pemerintahan oleh
kepala suku yang dipilih karena memiliki kelebihan tertentu jika dibandingkan
anggota kelompok lainnya. Ketika pengaruh Hindu-Budha masuk maka berdiri
Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang berkuasa secara turun-temurun.
Raja dianggap sebagai keturuanan dari dewa yang memiliki kekuatan, dihormati,
dan dipuja. Sehingga memperkuat kedudukannya untuk memerintah wilayah kerajaan
secara turun temurun. Serta meninggalkan sistem pemerintahan kepala suku.
4. Bidang Pendidikan
Masuknya Hindu-Budha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam
bidang pendidikan. Sebab sebelumnya masyarakat Indonesia belum mengenal
tulisan. Namun dengan masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat Indonesia mulai
mengenal budaya baca dan tulis.
Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu :
A. Dengan digunakannya bahasa
Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia.
Bahasa tersebut terutama digunakan di kalangan pendeta dan bangsawan kerajaan.
Telah mulai digunakan bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Bali Kuno yang
merupakan turunan dari bahasa Sansekerta.
B.Telah dikenal juga sistem
pendidikan berasrama (ashram) dan didirikan sekolah-sekolah khusus untuk
mempelajari agama Hindu-Budha. Sistem pendidikan tersebut kemudian diadaptasi
dan dikembangkan sebagai sistem pendidikan yang banyak diterapkan di berbagai
kerajaan di Indonesia.
C. Bukti lain tampak dengan
lahirnya banyak karya sastra bermutu tinggi yang merupakan interpretasi
kisah-kisah dalam budaya Hindu-Budha. Contoh :
· Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha
· Empu Kanwa dengan karyanya Arjuna Wiwaha
· Empu Dharmaja dengan karyanya Smaradhana
· Empu Prapanca dengan karyanya Negarakertagama
· Empu Tantular dengan karyanya Sutasoma.
D. Pengaruh Hindu Budha nampak
pula pada berkembangnya ajaran budi pekerti berlandaskan ajaran agama
Hindu-Budha. Pendidikan tersebut menekankan kasih sayang, kedamaian dan sikap
saling menghargai sesama manusia mulai dikenal dan diamalkan oleh sebagian
masyarakat Indonesia saat ini.
Para
pendeta awalnya datang ke Indonesia untuk memberikan pendidikan dan pengajaran
mengenai agama Hindu kepada rakyat Indonesia. Mereka datang karena berawal dari
hubungan dagang. Para pendeta tersebut kemudian mendirikan tempat-tempat
pendidikan yang dikenal dengan pasraman. Di tempat inilah rakyat mendapat
pengajaran. Karena pendidikan tersebut maka muncul tokoh-tokoh masyarakat Hindu
yang memiliki pengetahuan lebih dan menghasilkan berbagai karya sastra.
Rakyat
Indonesia yang telah memperoleh pendidikan tersebut kemudian menyebarkan pada
yang lainnya. Sebagian dari mereka ada yang pergi ke tempat asal agama
tersebut. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan melakukan ziarah. Sekembalinya
dari sana mereka menyebarkan agama menggunakan bahasa sendiri sehingga dapat
dengan mudah diterima oleh masyarakat asal.
Agama Budha tampak bahwa pada masa dulu telah terdapat guru besar agama Budha,
seperti di Sriwijaya ada Dharmakirti, Sakyakirti, Dharmapala. Bahkan raja
Balaputra dewa mendirikan asrama khusus untuk pendidikan para pelajar sebelum
menuntut ilmu di Benggala (India)
5. Kepercayaan
Sebelum
masuk pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia, bangsa Indonesia mengenal dan memiliki
kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang (animisme dan dinamisme).
Masuknya agama Hindu-Budha mendorong masyarakat Indonesia mulai menganut agama
Hindu-Budha walaupun tidak meninggalkan kepercayaan asli seperti pemujaan
terhadap arwah nenek moyang dan dewa-dewa alam. Telah terjadi semacam sinkritisme
yaitu penyatuaan paham-paham lama seperti animisme, dinamisme, totemisme dalam
keagamaan Hindu-Budha.
Contoh :
Di Jawa Timur berkembang aliran Tantrayana seperti yang dilakukan Kertanegara
dari Singasari yang merupakan penjelmaaan Siwa. Kepercayaan terhadap roh
leluhur masih terwujud dalam upacara kematian dengan mengandakan kenduri 3
hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun dan 1000 hari, serta masih
banyak hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
6. Seni dan
Budaya
Pengaruh kesenian India terhadap kesenian Indonesia terlihat jelas pada
bidang-bidang dibawah ini:
Seni Bangunan
Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni
asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk
perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan
hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang
mendapat pengaruh Hindu Budha. Contohnya candi Borobudur. Pada candi disertai
pula berbagai macam benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga
candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa.
Sedangkan candi Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat peti
pripih dan abu jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.
Seni Rupa
Seni rupa tampak berupa patung dan relief.
Patung dapat kita lihat pada penemuan patung Budha berlanggam Gandara di Bangun
Kutai. Serta patung Budha berlanggam Amarawati di Sikending (Sulawesi Selatan).
Selain patung terdapat pula relief-relief pada dinding candi seperti pada Candi
Borobudur ditemukan relief cerita sang Budha serta suasana alam Indonesia.
Seni Sastra dan Aksara
Periode
awal di Jawa Tengah pengaruh sastra Hindu cukup kuat.
Periode tengah bangsa Indonesia mulai melakukan penyaduran atas karya India.
Contohnya: Kitab Bharatayudha merupakan gubahan Mahabarata oleh Mpu Sedah dan
Panuluh. Isi ceritanya tentang peperangan selama 18 hari antara Pandawa melawan
Kurawa. Para ahli berpendapat bahwa isi sebenarnya merupakan perebutan kekuasaan
dalam keluarga raja-raja Kediri.
Prasasti-prasasti
yang ada ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Bahasa Sansekerta
banyak digunakan pada kitab-kitab kuno/Sastra India. Mengalami akulturasi
dengan bahasa Jawa melahirkan bahasa Jawa Kuno dengan aksara Pallawa yang
dimodifikasi sesuai dengan pengertian dan selera Jawa sehingga menjadi aksara
Jawa Kuno dan Bali Kuno. Perkembangannya menjadi aksara Jawa sekarang serta
aksara Bali. Di kerajaan Sriwijaya huruf Pallawa berkembang menjadi huruf Nagari.
7. Bidang
Teknologi
Masyarakat
Indonesia dari sebelum masuknya agama Hindu-Budha sebenarnya sudah memiliki
budaya yang cukup tinggi. Dengan masuknya pengaruh budaya Hindu-Budha di
Indonesia semakin mempertinggi teknologi yang sudah dimiliki bangsa Indonesia
sebelumnya. Pengaruh Hindu-Budha terhadap perkembangan teknologi masyarakat
Indonesia terlihat dalam bidang kemaritiman, bangunan dan pertanian.
Perkembangan
kemaritiman terlihat dengan semakin banyaknya kota-kota pelabuhan, ekspedisi
pelayaran dan perdagangan antar negara. Selain itu, bangsa Indonesia yang
awalnya baru dapat membuat sampan sebagai alat transportasi kemudian mulai
dapat membuat perahu bercadik.
Perpaduan antara
pengetahuan dan teknologi dari India dengan Indonesia terlihat pula pada
pembuatan dan pendirian bangunan candi baik candi dari agama Hindu maupun
Budha.
Bangunan candi
merupakan hasil karya ahli-ahli bangunan agama Hindu-Budha yang memiliki nilai
budaya yang sangat tinggi. Selain itu terlihat dalam penulisan prasasti-prasastri
pada batu-batu besar yang membutuhkan keahlian, pengetahuan, dan teknik
penulisan yang tinggi. Pengetahuan dan perkenalan teknologi yang tinggi
dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Dalam bidang
pertanian, tampak dengan adanya pengelolaan sistem irigasi yang baik mulai
diperkenalkan dan berkembang pada zaman masuknya Hindu-Budha di Indonesia.
Tampak pada relief candi yang menggambarkan teknologi irigasi pada zaman
Majapahit.
8. Sistem
Kalender
Diadopsi dari sistem kalender/penanggalan India. Hal ini terlihat dengan adanya
:
· Penggunaan tahun Saka di Indonesia. Tercipta kalender dengan sebutan tahun
Saka yang dimulai tahun 78 M (merupakan tahun Matahari, tahun Samsiah) pada
waktu raja Kanishka I dinobatkan jumlah hari dalam 1 tahun ada 365 hari. Oleh
orang Bali, tahun Saka tidak didasarkan pada sistem Surya Pramana tetapi sistem
Chandra Pramana (tahun Bulan, tahun Kamariah) dalam 1 tahun ada 354 hari. Musim
panas jatuh pada hari yang sama dalam bulan Maret dimana matahari, bumi, bulan
ada pada garis lurus. Hari tersebut dirayakan sebagai Hari Raya Nyepi.
· Ditemukan Candrasangkala/ Kronogram ada dalam rangka memperingati peristiwa
dengan tahun/ kalender saka. Candrasangkala adalah angka huruf berupa susunan
kalimat/ gambaran kata. Bila berupa gambar harus diartikan dalam bentuk
kalimat.
Seni Ukir
Seni Ukir Islam
disebut Kaligrafi, yang dapat dipahatkan pada kayu.
Contoh :
☻Kaligrafi/ukiran yang
dipahatkan pada dinding depan Masjid Mantingan, Jepara
☻Di
Masjid Cirebon terdapat pahatan berbentuk harimau
Pahatan berupa gambar tersebut disebut Arabesk
SENI SASTRA
Tampak
pada karya sastra di Selat Malaka dan Pulau Jawa.
Karya sastra yang berkembang:
1. Suluk,yaitu karya sastra yang berisi ajaran-ajaran tasawuf. Contoh : Suluk
Sukrasa, Suluk Wujil
2. Hikayat, yaitu dongeng atau
cerita rakyat yang sudah ada sebeluym masuknya Islam.
Contoh: Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Panji Semirang
3. Babad, yaitu kisah sejarah yang
terkadang memuat silsilah para raja suatu kerajaan Islam
Contoh: Babad tanah Jawi, Babd Cirebon, Babad Ranggalawe
SISTEM PEMERINTAHAN
Digunakan aturan-aturan Islam dalam pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di
Indonesia. Terbukti dengan adanya :
A. Raja Mataram Islam awalnya
bergelar Sunan/Susuhunan, artinya dijunjung
B. Raja akan diberi Gelar Sultan jika telah diangkat atas persetujuan khalifah
yang memerintah di Timur Tengah
C. Terdapat gelar lain yaitu Panembahan, Maulana.
SOSIAL
- Mulai dikenal sistem demokrasi
- Tidak mengenal adanya sistem kasta
- Tidak mengenal perbedaan gologan dalam masyarakat
FILSAFAT
Setelah Islam lahir berkembanglah Ilmu filsafat yang berfungsi untuk mendukung
pendalaman agama Islam.
- Abad 8 M, lahir dasar-dasar Ilmu
Fikih
- Fikih, merupakan ilmu yang mempelajari hukum dan peraturan yang mengatur hak
dan kewajiban umat Islam terhadap Tuhan dan sesama manusia.
Dengan Fikih diharapkan umat Islam dapat hidup sesuai dengan kaidah Islam.
- Abad ke-10 M, lahir dasar-dasar Ilmu Qalam dan Tasawuf
- Qalam, merupakan ajaran pokok Islam tentang keesaan Tuhan, Ilmu teologi/Ilmu
ketuhanan/ Ilmu Tauhid.
- Asal mula lahirnya tasawuf karena pencarian Allah karena kecintaan dan
kerinduan pada Allah.
- Tasawuf kemudian berkembang menjadi aliran kepercayaan
·
Kebudayaan Barat
Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk melihat secara jernih,
tentang kebudayaan Barat, yang sedang naik-daun dan berkelindan dengan
problematika kehidupan manusia.
Kebudayaan Barat adalah sebuah kebudayaan yang dipromosikan lewat
globalisasi.Sebuah kebudayaan yang ternyata bersifat kontradiktif antara unsur
kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Itu adalah tesis dari tulisan ini,
yang akan dapat lebih jelas dilihat dari uraian-uraian selanjutnya.
Kebudayaan Barat dikatakan kontradiktif, karena beberapa hal yaitu:
Adanya usaha pengeliminiran antar unsur kebudayaan.
Kondisi ini dapat dilihat dari peperangan yang terjadi antara keyakinan dengan
sains, keyakinan dengan filsafat, keyakinan dengan seni, keyakinan dengan
ekonomi, politik dengan moralitas, moralitas dengan ekonomi, dan lain-lain.
Dapat dilihat, bahwa merupakan suatu hal yang umum diketahui bahwa kondisi
tersebut wajar terjadi.Dan bahkan kerap digeneralisir kepada seluruh
kebudayaan yang ada di seluruh pelosok bumi.Sehingga muncul anggapan yang naif
akibat pencitraan dan kegelapan mata, bahwa sangat sulit untuk menyatukan atau
menghentikan peperangan tersebut.
Inilah penyebab yang mungkin membuat Barat membuat sebuah mekanisme pelumpuhan
kemampuan mendominasi atau menyerang kepada unsur kebudayaan lain. Lewat
pencitraan bahwa di balik segala sesuatu ada kekuasaan, relativitas kebenaran,
teologi global, pluralisme agama, anarkis metodologis, Hak Asasi Manusia, dan
masih banyak lainnya.Danusaha tersebut sudah menampakkan pengaruhnya dalam
kehidupan seluruh manusia yang terjangkau oleh globalisasi.
Hal lain yang terjadi adalah munculnya sebuah kondisi inferior tentang dua hal
dalam kebudayaan yaitu, keyakinan dan moralitas. Dua sisi ini, menjadi
sedemikian inferior, sehingga mereka melakukan “bunuh-diri” dengan mereduksi
dirinya sendiri menjadi hanya tinggal nilai-nilai universal.Sehingga jalan
keselamatan tidak hanya lewat keyakinan yang mereka pegang.Kebudayaan Barat
menjadi kebudayaan yang lahir sebagai sintesa bagi kebudayaan Kristen-Romawi –
meskipun masih mengambil beberapa peringatan dari kebudayaan Kristen-Romawi
seperti Valentine, Natal, Paskah, Halloween, dan lain-lain. Kebudayaan barat
dibangun dengan semangat Yunani dengan Filsafat sebagai “teologi”, demokrasi
sebagai sistem politik, protestan sebagai keyakinan tanpa ibadah (deisme),
sekulerisme sebagai alat potong dan pelumpuhan intervensi dari pihak manapun,
homoseks dan banalitas-seksual sebagai antitesa pengakuan dosa dan represi
seksual Katolik.
Proses pengambilan unsur-unsur tersebut oleh kebudayaan Barat, dilakukan secara
asimilatif. Unsur-unsur tersebut diambil secara mentah-mentah dan kemudian
dicampur dalam sebuah kondisi yang saling bertolak belakang. Kebudayaan Barat
lahir bukan dari prinsip yang utuh dan meliputi, akan tetapi bersifat parsial
dan karena tidak dapat dihubungkan atau bertentangan, maka terjadi isolasi
(yang akan lebih lanjut diuraikan) atau peperangan (seperti sudah diuraikan di
atas).
Sungguh malang, namun hal itu benar-benar terjadi dan ternyata menular kepada
kebudayaan lain. Penyakit tersebut diderita pula oleh kebudayaan lain dan
akhirnya berusaha mengadaptasi cara Barat dalam menjalani kebudayaannya.
Terlihat dengan menggunakan periodisasi sejarah seperti Barat.Periodisasi
dikenal dengan pembagian Klasik, Abad Pertengahan, Renaisans, Modern,
dan Posmodern.Para peng-asimilasi kebudayaan Barat kemudian mencoba
men-sekuler-kan dan me-liberal-kan kebudayaan mereka seperti yang dilakukan
kebudayaan Barat untuk mencapai kejayaan dan kemajuan yang dicapai Barat.
Akhirnya banyak kebudayaan yang menjadi “Barat” (westernisasi), mulai dari
pandangan ontologis hingga etis, beserta prakteknya..
Sebenarnya, masyarakat Barat mulai sadar dengan kondisi yang demikian sakit –
meski disayangkan para peng-asimilasi kebudayaan Barat nampaknya
belum sadar.Namun, mereka tidak dapat melihat secara jelas akar
permasalahannya. Masyarakat Barat banyak yang melarikan diri ke dalam
spiritualitas, dunia mistis, kehidupan banal, menikmat seks yang memuakkan,
menikmati musik yang mebuat histeris, dan lain-lain hingga akhirnya bunuh-diri,
menjadi fenomena yang wajar dan tidak berusaha untuk diubah. Semua hal tersebut
adalah wajar karena kebebasan adalah segalanya.Tradisi haruslah sesuatu yang
rasional dan menjunjung kebebasan dan Hak
Asasi Manusia.Lewat argumentasi ini, individu-Barat menjadi
pragmatis, eklektis, dan split-many-personality.
Meskipun muncul kesadaran tentang ke-akut-an penyakit mereka, pengeliminiran
ini masih terus terjadi dan entah kapan akan berakhir.
Adanya usaha untuk mengisolasi unsur kebudayaan yang satu
dari unsur kebudayaan yang lain.
Mengisolasi unsur kebudayaan yang satu dengan yang lain, sebenarnya merupakan
konsekuensi dari eklektis-kontradiktifnya kebudayaan Barat – karena unsur-unsur
kebudayaannya tidak berhubungan bahkan bertentangan satu sama lain. Usaha untuk
mengisolasi ini adalah sebuah hal yang sudah kita ketahui, lewat
ungkapan-ungkapan, seperti seni untuk seni (seni murni), sains untuk sains, politik
untuk politik, ekonomi untuk ekonomi, dan hukum untuk hukum.
Jika ditelusuri, penyebab kondisi tersebut adalah sekularisme – selain yang
sudah disebutkan di atas.Sekularisme, pada awalnya, menyerang agama Kristen
yang berkelindan dengan negara.Sekularisme menghendaki agar gereja atau urusan
keyakinan dipisahkan dari negara. Pemisahan ini, ternyata semakin meluas dan
menjangkiti unsur-unsur kebudayaan Barat yang lain. Semua unsur tersebut,
secara implisit mengatakan bahwa mereka memiliki wilayahnya masing-masing yang
otonom dan terpisah dari yang lainnya.Keter-pisahan ini membuat diri
individu-Barat juga menjadi split-many-personality.Mereka menjadi sedemikian
banyak pribadi yang berbeda dalam dunia yang sebenarnya hanya
satu.Pribadi-banyak yang dimaksud adalah pribadi yang menghidupi
prinsip-prinsip yang bertentangan di dalam unsur-unsur kebudayaannya. Hal ini
membuat seseorang yang hidup seperti demikian, akan memiliki dua prinsip yang
berbeda-bertentangan dalam satu unsur kebudayaan, seperti menjadi teis (formal)
sekaligus ateis (praktek, dalam sekularisme), dan ketika berpindah menghidupi
unsur kebudayaan lain.
Namun, perlahan pula disadari bahwa isolasi seperti adalah sebuah tindakan yang
naif dan banyak merusak.Seperti mulai disadari bahwa seni bukan untuk seni
itu sendiri.Seni, yang nyatanya menjadi sebuah sarana untuk melakukan
kritik sosial, juga merupakan seni, tapi bukan untuk dirinya sendiri. Sains pun
demikian. Sains menjadi sesuatu yang digunakan untuk kemanfaatan kehidupan
manusia. Dan begitu juga dengan unsur kebudayaan Barat yang lain.
Kesadaran ini, sayangnya masih menemui kebuntuan.Oleh karena ada
problem dalam agama yang mereka anut sebelumnya, yang sebenarnya mendasar dan
belum diselesaikan.Problem tentang Tuhan yang satu, kitab yang diwahyukan, Nabi
dan rasul, bunda Maria, Natal, dan masih banyak yang lainnya.Problem tersebut
belum mereka selesaikan, padahal itu letak permasalahan yang penting untuk
diselesaikan.
Adanya ideologisasi di dalam masing-masing unsur kebudayaan.
Adanya ideologisasi ini, dapat dilihat dari penggunaan akhiran “-isme”.
Misalnya, materialisme, idealisme, relativisme, empirisme, rasionalisme,
positivisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme, liberalisme, feminisme,
hedonisme, dan masih banyak yang lainnya.
Ideologisasi ini pada dasarnya terjadi karena melihat realitas secara sebelah
mata dan akhirnya melakukan reduksi yang menyebabkan masing-masing di dalam
masing-masing unsur kebudayaan terdapat banyak ideologi.Liberalisme adalah
sebuah ideologi yang liberal mulai dari sisi ontologis
hingga etis.Dan begitu pula yang lainnya.Masing-masing ideologi sudah
mengatur pandangan mulai dari tataran ontologis
hingga etis.Lalu bagaimana semua unsur tersebut dapat disatukan dalam
sebuah kebudayaan, yang disebut Barat?
Pertanyaan tersebut akan membawa kita kepada tesis yang sedari awal saya
ajukan, bahwa Barat adalah kebudayaan yang ternyata bersifat kontradiktif
antara unsur kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur kebudayaan
tersebut dapat bersatu hanya karena Barat sudah lelah mencari arkhe,
pengetahuan dan kebenaran yang universal dan absolut, hingga akhirnya hanya
menerima kebenaran pragmatis, pengetahuan yang abritrer, dan nilai yang
relatif.Sebuah kelelahan yang akhirnya memunculkan sikap mengabaikan persoalan
yang tidak kunjung terjawab. Pengabaian terhadap persoalan realitas universal
ada atau tidak (soft anti-realisme); dasar yang tak goyah bagi pengetahuan
(anti-fondasionalis); nilai yang incommensurability (tak terbandingkan) satu
sama lain (relativisme nilai).
Pengabaian yang disebutkan di atas bukan tanpa problem.Sebab, mereka
kemudian menghadapi problem atas munculnya ruang universalitas di dunia.Ketika
akhirnya, multikulturalisme pun nampak menjadi suatu institusi yang “objektif”
yang mengevaluasi aktivitas kebudayaan-kebudayaan yang ada, meskipun dikatakan
bahwa nilai-nilai tersebut relatif. Berbicara tentang wujud dan pengetahuan
yang relatif pula, namun seolah-olah apa yang dibicarakan bersifat universal.
Dapat dikatakan bahwa Barat sebagai sebuah kebudayaan adalah sebuah budaya yang
sakit dan kini sedang mempopulerkan dirinya lewat globalisasi, sehingga manusia
dalam kebudayaan lain menjadi ikut sakit. Kebudayaan lain, sebenarnya adalah
kebudayaan yang lebih baik daripada kebudayaan Barat. Kebudayaan lain itu
memiliki sebuah kesatuan hubungan antar unsur kebudayaannya. Tidak ada isolasi,
ideologisasi, dan pengeliminiran dalam kebudayaan mereka.Meskipun masih
terdapat permasalahan dari segi ke-Tuhan-an, yang merupakan pusat hubungan
antar-unsur kebudayaan. Pusat tersebut bermasalah karena tidak ada keterangan
yang nyata tentang siapa yang pantas menjadi Tuhan, bagaimana menyembahnya, apa
saja yang menjadi perintah dan larangannya, dan seterusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar